Tag: candi borobudur

Sejarah Terbentuknya Candi Borobudur: Kejayaan Warisan Nusantara

Sejarah Terbentuknya Candi Borobudur: Kejayaan Warisan Nusantara

Asal Usul dan Latar Belakang Pendirian Candi Borobudur

Sejarah Candi Borobudur bermula dari masa Dinasti Syailendra, pada sekitar abad ke-8. Pada periode tersebut, kekuasaan kerajaan berkembang pesat di wilayah Jawa Tengah. Karena itu, para penguasa merasa perlu membangun monumen megah untuk memperkuat kekuasaan dan menunjukkan kemakmuran kerajaan.

Selain itu, para penguasa juga berusaha menegaskan identitas agama Buddha Mahayana di Nusantara. Jadi, mereka memilih mendirikan candi raksasa di kawasan dekat gunung dan sungai besar. Bahkan, lokasi pembangunan Borobudur terletak di antara Gunung Sundoro, Sumbing, Merapi, Merbabu, dan Menoreh, sehingga mencerminkan filosofi spiritual mengenai hubungan manusia dengan alam.

Para sejarawan menyebut arsitek Gunadharma sebagai sosok perancang candi ini. Meskipun bukti lengkap tidak ditemukan, banyak naskah kuno yang menyiratkan nama tersebut. Selain itu, proses pembangunan melibatkan ribuan pekerja, seniman batu, serta ahli teknik tradisional. Mereka bekerja secara terencana dengan memanfaatkan lereng bukit sebagai fondasi alami. Dengan demikian, struktur Borobudur tampak menyatu dengan alam.

Sebagai tambahan, Borobudur bukan hanya tempat ibadah. Lebih jauh, candi ini juga berfungsi sebagai pusat pendidikan spiritual dan budaya. Para peziarah menapaki jalur ritual dari dasar hingga puncak, sambil mempelajari relief yang berisi ajaran moral dan filosofi Buddha. Alhasil, Borobudur menjadi simbol perjalanan manusia menuju pencerahan.


Proses Pembangunan dan Makna Arsitektur Candi

Para ahli meyakini proses pembangunan memakan waktu sekitar 75 tahun. Mula-mula, para pekerja memotong dan menyusun batu vulkanik lokal. Kemudian, mereka mengatur batu-batu tersebut secara presisi tanpa semen. Teknik ini menunjukkan kecerdasan rekayasa bangunan tradisional yang sangat maju.

Lebih lanjut, struktur Borobudur terdiri dari tiga bagian utama, yaitu Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu. Ketiga tingkat ini menggambarkan tahapan kesadaran manusia dalam ajaran Buddha. Karena itu, setiap perjalanan naik mengajarkan nilai kehidupan.

Kemudian, para seniman mengukir lebih dari 2.600 panel relief. Akhirnya, karya tersebut menjadi media pembelajaran visual bagi masyarakat kuno. Relief menggambarkan kisah karma, kehidupan Buddha, dan kehidupan sosial masyarakat Jawa pada masa itu.

Tabel berikut menjelaskan struktur utama Borobudur:

TingkatMakna FilosofisBentuk Struktur
KamadhatuDunia nafsu manusiaDasar candi
RupadhatuDunia bentuk dan kesadaranTeras berundak
ArupadhatuDunia tanpa bentukStupa dan puncak

Selain struktur luar, terdapat pula stupa utama di puncak yang melambangkan kesempurnaan spiritual. Di sekelilingnya, 72 stupa berbentuk lonceng berdiri rapi. Jadi, desain ini tidak hanya megah, tetapi juga penuh makna.


Fase Kejayaan, Kejatuhan, dan Pemugaran Candi

Selama berabad-abad, Borobudur menjadi pusat ziarah utama. Namun, setelah pengaruh kerajaan Hindu-Buddha melemah dan Islam berkembang, Borobudur perlahan ditinggalkan. Kemudian, lapisan tanah, tumbuhan liar, dan abu vulkanik menutupi bangunan ini. Dalam kondisi itu, Borobudur hampir terlupakan oleh masyarakat.

Pada tahun 1814, Thomas Stamford Raffles mendengar kabar mengenai bangunan besar di Jawa. Lalu, ia mengutus tim untuk membersihkan situs tersebut. Sesudah itu, Borobudur kembali dikenal dunia. Akan tetapi, kerusakan terus terjadi karena alam dan penjarahan benda kuno.

Akhirnya, pada tahun 1973 hingga 1983, UNESCO bersama pemerintah Indonesia memulai proyek pemugaran besar. Selanjutnya, Borobudur dinobatkan sebagai Warisan Budaya Dunia pada 1991. Sejak saat itu, pengunjung dari seluruh dunia terus mempelajari nilai sejarah dan spiritualnya.

Kini, Candi Borobudur menjadi simbol kejayaan budaya Indonesia. Bahkan, berbagai festival budaya dan ritual Waisak rutin diselenggarakan. Dengan demikian, masyarakat modern tetap dapat menghargai makna spiritual dan historis warisan ini.